Jumat, 10 Juli 2009

Anak saya, anak anda, anak kita yang bermain di jalanan

Sore itu hujan turun dengan deras, wiper mobil yang aku kendarai tidak sanggup menepis air hujan yang turun satu - satu di kaca mobil, mata yang kupertahankan habis-habisan penampilannya dengan tidak mengenakan kaca mata tidak sanggup lagi melihat melebihi jarak 2 meter, teriakan putri mungilku yang minta martabak telur menebalkan niat untuk menepikan mobil dan menunggu hujan berhenti di sebuah rumah makan spesialis martabak di margonda.

Kebaikan hati tukang parkir yang memayungiku tidak mengurangi niat hujan mengguyur bajuku, basah, dingin, lelah, kuhempaskan raga ke salah satu kursi, dengan satu tangan menggenggam handphone, membuka lembaran - lembaran facebook, bergaul akrab melalui dunia maya, untuk kemudian ignore pada manusia - manusia di dunia nyata.

Dan peristiwa itu terjadi, seorang anak berusia sekitar 7 tahun mendatangiku, basah, kumal, kurus, jauh dari kata keren dan gaya yang jadi kiblat orang kota. Dengan menggengam botol air mineral yang berisi pasir, sang jagoan kecil mulai unjuk gigi, ia dendangkan sebuah lagu diiringi botol pasirnya, berharap sang ibu basah yang asyik dengan dunia maya sudi merogoh sebuah lembaran kumal dari dompetnya untuk dihibahkan.

Terganggu adalah kata pertama yang terlintas di benakku, kesal kata kedua yang mengikutinya dan gerutu dalam hatiku melengkapinya. Tapi cemberutan gaya kolonial ini sama sekali tidak menyurutkan langkah sang jagoan, semakin cemberut wajahku, semakin semangat sang biduan. Di puncak penatku kutengadahkan wajah, sebuah wajah polos, dengan campuran kenakalan anak - anak dan kerasnya jalan raya tersenyum padaku, tetap mendendangkan lagu.

"Sayang, kamu nyanyi apa?" kupaksakan sebuah tanya.
"Petepe...." si bocah menjawab tak jelas sambil terus bernyanyi.
"Ibu tanya, kamu nyanyi apa nak?", dengan gaya intimidasi ku underline pertanyaanku.
"Petepe..." dengan yakin ia menjawab, tetap bernyanyi.
"Sayang, ibu nggak ngerti kamu nyanyi apa..., nggak apa - apa deh, sekarang ibu tanya, kamu mau apa nak?", nadaku meninggi.
"Serebu..." sang biduan menjawab yakin, sambil bernyanyi.
"Nggak mau yang lain?" tanyaku dengan teknik lobbying tinggi.
"Nggak...!" sang biduan menjawab tegas, sambil terus bernyanyi...
"Ibu traktir ya... makan apa aja, ntar ibu bayar, trus boleh bungkus kok..."
"Nggak serebu aja..." lagunya tak berhenti.
"Nggak mau lebih sayang, lima ribu mau?" kalo yang ini teknik suap menyuap...
"Nggak serebu aja...." ia tetap bernyanyi...
"Profesional!!!" kataku membatin, ia tahu betul berapa tarifnya...

Menyerah! kurengkuh dompetku, kutarik selembar ribuan, dengan cepat tangan kecil itu menyambut ulurannya, "terimakasih..." ucapnya lirih, mata kami beradu, bening, cantik, ada kesulitan disana, pasti masa kecilnya tidak sebahagia anak - anak kita, anak saya dan anda yang sedang membaca blog ini, ada sedikit harapan dimatanya, harapan untuk cinta. Ingin saya bertanya, dimana Ayahmu Nak, sedang apa Ibumu Nak, siapa yang telah menyakitimu dijalanan Nak, namun sang biduan telah berlalu, sempat ku usap lembut kepalanya, kelihatannya ia menyukai sentuhanku... Sempat kuucapkan sebuah doa, semoga Allah SWT meringankan kesulitannya dan melindunginya dari kejahatan semua mahluk ciptaanNya, doa yang sering ku aminkan dalam hati bila kusentuh rambut putri kecilku...

Dan konser tunggal di sore yang dingin dan basah itu selesai sudah....